Kamu sedang melihat website WordPress-mu mulai lambat, atau hosting lama sering error? Saatnya pindah ke hosting baru. Tapi khawatir data hilang atau website down saat proses migrasi?
Gausa panik. Migrasi WordPress itu bisa dilakukan sendiri, bahkan tanpa bantuan developer. Artikel ini akan memandu kamu langkah demi langkah, dari backup hingga website hidup di hosting baru.
Yang Kamu Butuhkan Sebelum Mulai
Sebelum memulai, siapkan beberapa hal:
- Akses ke hosting lama (cPanel atau dashboard hosting)
- Akses ke hosting baru (sudah aktif dan siap pakai)
- FTP client seperti FileZilla (gratis) atau Cyberduck
- Waktu sekitar 1–2 jam (tergantung ukuran website)
- Catatan domain kamu saat ini
Jika kamu baru membeli hosting baru, tunggu hingga setup selesai dan kamu bisa login ke cPanel atau dashboard-nya.
Langkah 1: Backup Database di Hosting Lama
Database adalah "jantung" website WordPress-mu. Di dalamnya tersimpan semua postingan, komentar, dan pengaturan. Jangan sampai hilang.
Cara export database via cPanel:
- Login ke cPanel hosting lama
- Cari menu phpMyAdmin (biasanya ada di bagian "Database")
- Klik phpMyAdmin; nanti muncul daftar database
- Pilih database WordPress-mu (biasanya namanya seperti
wp_12345atau nama yang kamu buat saat install) - Setelah database terbuka, klik tab Export di bagian atas
- Biarkan pilihan default (format SQL), lalu klik Go
- File
.sqlakan ter-download ke komputer kamu
Tip: Simpan file ini di folder khusus yang mudah diingat, misalnya folder "Backup WordPress" di Desktop.
Langkah 2: Download Seluruh File WordPress
Selain database, kamu juga perlu file-file website (tema, plugin, gambar, dll).
Cara download via FTP:
- Buka FileZilla atau FTP client pilihan kamu
- Login dengan akun FTP hosting lama (kamu bisa lihat detail FTP di cPanel → FTP Accounts)
- Navigasi ke folder
public_htmlatau folder tempat WordPress diinstal - Pilih semua folder dan file (Ctrl+A), lalu klik kanan → Download
- Tunggu hingga selesai (bisa memakan waktu 10–30 menit tergantung ukuran)
Peringatan: Jangan berhenti proses download di tengah-tengah. Kalau terputus, mulai ulang.
Alternatif: Jika tidak ingin repot dengan FTP, gunakan plugin UpdraftPlus (gratis) untuk backup otomatis. Kamu bisa download backup lengkap dari dashboard WordPress.
Langkah 3: Buat Database Baru di Hosting Baru
Sekarang masuk ke hosting baru.
Cara buat database di cPanel hosting baru:
- Login ke cPanel hosting baru
- Cari MySQL Databases atau Database
- Buat database baru dengan nama yang mudah diingat, misalnya
wp_baruatau nama domain-mu - Catat nama database ini
- Di bagian yang sama, buat user baru untuk database (misalnya
wp_user_baru) - Buat password yang kuat (gunakan generator password)
- Tambahkan user ke database dan berikan semua privilege (All Privileges)
Catat baik-baik: Nama database, username, password, dan host (biasanya localhost).
Langkah 4: Upload Database ke Hosting Baru
Sekarang kamu akan "memasukkan" backup database ke database baru.
Cara import database via phpMyAdmin:
- Login ke phpMyAdmin di hosting baru
- Pilih database baru yang baru saja kamu buat
- Klik tab Import
- Klik Choose File dan pilih file
.sqlyang sudah kamu download dari hosting lama - Biarkan pilihan default, klik Go
- Tunggu hingga muncul pesan "Import telah berhasil" (biasanya hijau)
Jika ada pesan error, jangan panik. Biasanya karena prefix tabel berbeda atau karakter khusus. Hubungi support hosting baru untuk bantuan.
Langkah 5: Upload File WordPress ke Hosting Baru
Sekarang upload file-file website yang sudah kamu download.
Cara upload via FTP:
- Buka FileZilla, login ke hosting baru
- Navigasi ke folder
public_html(atau folder yang ditunjuk untuk domain) - Upload semua folder dan file yang sudah kamu download dari hosting lama
- Tunggu hingga selesai
Jika folder public_html sudah ada file (biasanya file default hosting), hapus dulu sebelum upload.
Langkah 6: Update File wp-config.php
File wp-config.php adalah file konfigurasi WordPress. Di dalamnya tersimpan detail koneksi ke database. Kamu perlu update agar WordPress terhubung ke database baru.
Cara edit wp-config.php:
-
Download file
wp-config.phpdari hosting baru via FTP -
Buka dengan text editor (Notepad++, VS Code, atau Sublime Text)
-
Cari baris-baris ini:
define('DB_NAME', 'nama_database_lama');→ ganti dengan nama database barudefine('DB_USER', 'username_lama');→ ganti dengan username database barudefine('DB_PASSWORD', 'password_lama');→ ganti dengan password database barudefine('DB_HOST', 'localhost');→ biasanya tidak perlu diubah
-
Simpan file
-
Upload kembali ke hosting baru via FTP (replace file yang lama)
Peringatan: Jangan ubah bagian lain di file ini, hanya database credentials saja.
Langkah 7: Arahkan Domain ke Hosting Baru
Sekarang domain kamu masih menunjuk ke hosting lama. Kamu perlu mengubah nameserver atau DNS agar menunjuk ke hosting baru.
Cara update nameserver (paling umum):
- Login ke registrar domain kamu (tempat kamu membeli domain, misalnya Niagahoster, Domainesia, atau IDwebhost)
- Cari menu Nameserver atau DNS Management
- Ganti nameserver dengan nameserver hosting baru (kamu bisa lihat di email atau dashboard hosting baru)
- Simpan perubahan
- Tunggu 24 jam hingga perubahan DNS tersebar (propagation)
Selama menunggu, website kamu masih bisa diakses via IP address hosting baru. Minta detail IP ke support hosting baru, lalu akses http://IP_address untuk test.
Alternatif: Jika tidak ingin mengubah nameserver, kamu bisa update A record (pointing) langsung di registrar domain. Tapi lebih mudah ganti nameserver.
Langkah 8: Test Website di Hosting Baru
Sebelum nameserver selesai propagate, kamu bisa test website via hosts file (Windows/Mac) atau langsung akses via IP.
Test via browser:
- Akses
http://IP_address_hosting_baruatauhttp://domain_kamu(setelah DNS propagate) - Lihat apakah website muncul dengan benar
- Cek beberapa halaman dan postingan
- Test login ke dashboard WordPress (biasanya di
domain.com/wp-admin) - Cek apakah gambar, plugin, dan tema tampil normal
Jika ada error, lihat di menu Settings → General di dashboard WordPress. Pastikan URL website sudah sesuai dengan domain baru.
Langkah 9: Update Pengaturan WordPress
Setelah website hidup di hosting baru, ada beberapa pengaturan yang perlu dicek:
- Settings → General: Pastikan WordPress Address dan Site Address sudah benar (harus dengan
https://jika punya SSL) - Settings → Permalink: Jangan ubah, hanya pastikan masih sama seperti sebelumnya
- Plugins: Aktifkan kembali plugin yang sebelumnya aktif (biasanya otomatis, tapi cek saja)
- Tema: Pastikan tema yang digunakan sudah ter-upload dan aktif
Tips Penting Saat Migrasi
- Backup dulu sebelum mulai: Jangan sampai ada yang terlewat
- Jangan hapus hosting lama dulu: Tunggu minimal 1 minggu setelah migrasi sukses
- Cek SSL certificate: Jika website lama punya SSL, install ulang di hosting baru
- Update plugin dan tema: Setelah migrasi, update ke versi terbaru
- Test kecepatan: Bandingkan kecepatan hosting lama vs baru menggunakan GTmetrix atau PageSpeed Insights
Langkah Berikutnya
Setelah website berhasil migrasi, kamu bisa:
- Optimasi kecepatan: Install plugin caching seperti WP Super Cache atau W3 Total Cache — dan pastikan kamu memahami WordPress caching strategies performance impact agar pilihan plugin-mu tepat sasaran
- Setup backup otomatis: Gunakan UpdraftPlus atau plugin backup lainnya
- Monitor uptime: Gunakan tool gratis seperti Uptime Robot untuk notifikasi jika website down
- Update SSL: Pastikan SSL certificate aktif dan valid
Migrasi WordPress memang terlihat ribet, tapi sebenarnya cukup straightforward kalau kamu ikuti langkah demi langkah. Kalau stuck di mana pun, jangan ragu hubungi support hosting baru — mereka biasanya siap membantu.